Bursa Asia-Pasifik kembali ditutup beragam pada perdagangan Kamis (13/4/2023), di mana kekhawatiran investor akan resesi yang kembali muncul membebani beberapa pasar keuangan di Asia-Pasifik pada hari ini.
Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup menguat 0,26% ke posisi 28.157, Hang Seng Hong Kong naik 0,17% ke 20.344,48, Straits Times Singapura bertambah 0,26% ke 3.294,54, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,43% menjadi 2.561,66.
Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China melemah 0,27% ke posisi 3.318,36, ASX 200 Australia terkoreksi 0,27% ke 7.324,1, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir terpangkas 0,2% menjadi 6.785,6.
Meski inflasi Amerika Serikat (AS) kembali melandai, tetapi investor khawatir kembali dengan potensi resesi global dan membebani pasar pada hari ini.
Sebelumnya pada Rabu malam waktu Indonesia, Inflasi AS secara mengejutkan melandai ke 5% (year-on-year/yoy) pada Maret.
Inflasi tidak hanya jauh lebih rendah dibandingkan 6% (yoy) pada Februari, tetapi juga jauh di bawah ekspektasi pasar (5,1%).
Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Negeri Paman Sam melandai ke 0,1% pada Maret 2023, dari sebelumnya sebesar 0,4% pada Februari.
Namun, inflasi inti masih kencang yakni 5,6% (yoy) pada Maret, dari sebelumnya sebesar 5,5% pada Februari.
Inflasi yang melandai ini menjadi sinyal jika ekonomi Negeri Paman Sam akan mulai mendingin setelah tumbuh relatif kencang yakni 2,6% (yoy) pada kuartal IV-2022.
Kondisi ini akan mendukung bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk segera melunakkan kebijakan moneternya.
Hanya beberapa jam setelah data inflasi keluar pada Rabu malam waktu Indonesia, The Fed mengeluarkan risalah FOMC untuk bulan lalu.
Dalam risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang keluar kemarin, The Fed juga mengatakan ekonomi AS bisa masuk resesi menyusul krisis perbankan mereka.
Sebagai catatan, tiga bank AS kolaps pada bulan lalu yakni Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank.
“Merujuk pada penilaian potensi dampak ekonomi dari sektor perbankan, ada proyeksi mengenai resesi ringan yang kemungkinan terjadi akhir tahun ini,” tulis risalah FOMC.
Pasar kini bertaruh jika kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) kini mencapai 69% pada Mei mendatang. Banyak dari pelaku pasar yang juga memperkirakan jika The Fed akan mulai menahan suku bunga pada Juni tahun ini.
Melandainya inflasi dan kekhawatiran The Fed mengenai resesi menjadi dua berkah yang turun dalam sehari. Kedua kondisi tersebut merupakan imbas dari kebijakan ketat The Fed yang akhirnya melemahkan ekonomi AS.
Kenaikan suku bunga sebesar 475 bp menjadi 4,75-5,0% dalam setahun terakhir telah menurunkan ekonomi AS dari 9,1% pada Juni 2022 menjadi 5% pada Maret 2023.
Suku bunga yang tinggi juga membuat ekonomi AS limbung, bahkan menimbulkan krisis perbankan.
Di lain sisi, proyeksi ekonomi global yang direvisi kembali oleh Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) masih menjadi sentimen negatif pada hari ini.
IMF dalam World Economic Outlook edisi April 2023 ‘A Rocky Recovery’ memangkas pertumbuhan global menjadi 2,8% pada 2023, dari 2,9% pada proyeksi sebelumnya.
IMF mengingatkan krisis perbankan di AS dan Eropa serta masih tingginya inflasi global akan menekan ekonomi dunia, terutama di negara-negara maju.